Anggaran infrastruktur daerah diduga menguap, warga tuntut transparansi —Aksi damai buruh tuntut revisi kebijakan upah minimum —Laporan warga soal pungli layanan publik terus bertambah —
Lho, kok jadi begini? Katanya agenda aksi 27 Agustus kemarin soal RUU Perampasan Aset, tapi dalam liputan di lapangan, ada sejumlah peserta ...
Lho, kok jadi begini? Katanya agenda aksi 27 Agustus kemarin soal RUU Perampasan Aset, tapi dalam liputan di lapangan, ada sejumlah peserta aksi yang ketika ditanya soal tuntutan yang diperjuangkan malah nggak bisa menjelaskan secara rinci.
Bahkan, dari jawaban yang beredar, ada yang menyebut soal MBG (Makan Bergizi Gratis). Lah, MinRa jadi ikut garuk-garuk kepala.
Kalau memang tuntutannya sudah jelas, harusnya peserta yang turun ke jalan juga tahu dong apa yang sedang diperjuangkan. Masa sudah datang demo, ditanya tuntutannya malah jawabannya ke mana-mana?
Sementara itu, disebutkan bahwa aksi 27 Agustus kemarin memiliki dua tuntutan utama:
Mengesahkan RUU Perampasan Aset
Hukuman mati bagi koruptor
Adapun tuntutan lain disebut sebagai tunggangan pihak tertentu. Tapi perlu digarisbawahi, klaim soal siapa yang menunggangi atau membawa agenda tambahan itu tetap merupakan tuduhan/klaim yang perlu dibuktikan, bukan otomatis fakta.
Nah, BaRaNers coba pikir. Kalau memang datang untuk memperjuangkan RUU Perampasan Aset, bukankah minimal tahu apa tuntutannya dan kenapa harus diperjuangkan?
Jangan sampai yang ikut aksi cuma tahu, “katanya demo”, tapi pas ditanya “demo buat apa?” malah loading dulu. Wkwk.
Sumber :TikTok@tvrakyat.ruangaktual
Menurut BaRaNers, apakah informasi dalam berita ini Hoax atau Fakta?
Situasi di kawasan Slipi hingga Petamburan, Jumat (28/8/2026), kembali memanas. Kali ini, sejumlah warga disebut diserang oleh ormas yang su...
Situasi di kawasan Slipi hingga Petamburan, Jumat (28/8/2026), kembali memanas. Kali ini, sejumlah warga disebut diserang oleh ormas yang sudah terorganisir.
Massa tersebut terlihat menggunakan ikat kepala berwarna putih dan membawa tongkat saat bergerak di kawasan tersebut. Mereka kemudian menyerang sejumlah warga yang berada di Slipi hingga Petamburan.
Kalau sudah datang dalam kelompok, seragamnya serupa, lalu membawa tongkat, suasananya jelas bukan lagi sekadar kumpul-kumpul biasa.
BaRaNers, warga yang cuma berada di sekitar lokasi akhirnya ikut berhadapan dengan massa. MinRa jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang sedang dicari dan apa tujuan aksi penyerangan tersebut?
Yang jelas, ketika warga sudah jadi sasaran, situasinya bukan lagi soal siapa paling berani. Jangan sampai jalanan berubah jadi arena main hakim sendiri.
Sumber :TikTok@pojokbekasi
Menurut BaRaNers, apakah informasi dalam berita ini Hoax atau Fakta?
Sore-sore di Perempatan Slipi, Jakarta, suasananya mendadak bukan lagi sekadar ramai. Pos polisi di lokasi dibakar massa yang datang pada Ka...
Sore-sore di Perempatan Slipi, Jakarta, suasananya mendadak bukan lagi sekadar ramai. Pos polisi di lokasi dibakar massa yang datang pada Kamis (27/8), setelah sebelumnya aksi massa dari Pati berlangsung di kawasan Gedung DPR/MPR RI.
Dari pantauan di lokasi, massa terdengar meneriakkan sejumlah yel-yel bernada kemarahan terhadap kepolisian. Pembakaran disebut bermula dari bagian spanduk yang berada di atas pos, lalu api merambat ke bagian dalam yang dipenuhi material mudah terbakar.
Belum cukup sampai dibakar, sejumlah massa juga terlihat memukulkan benda tumpul ke pos polisi sampai kaca bangunan pecah.
Yang bikin situasinya makin rawan, saat kejadian berlangsung tidak terlihat adanya personel kepolisian yang berjaga di lokasi.
Kalau MinRa lihat situasinya, ini sudah bukan sekadar aksi teriak-teriak di jalan. Fasilitas pos polisi ikut jadi sasaran.
BaRaNers, kemarahan boleh disuarakan, kritik juga sah disampaikan. Tapi ketika fasilitas mulai dibakar dan dirusak, pertanyaannya jadi lain: sebenarnya pesan apa yang mau disampaikan?
Sumber :TikTok@jawaposofficial
Menurut BaRaNers, apakah informasi dalam berita ini Hoax atau Fakta?
Lagi panas-panasnya pembubaran massa aksi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026), ada satu momen yang bikin mata ikut melotot. S...
Lagi panas-panasnya pembubaran massa aksi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026), ada satu momen yang bikin mata ikut melotot.
Sekitar pukul 19.30 WIB, polisi mulai membubarkan massa. Di tengah situasi itu, seorang pria berkaos putih terlihat menantang aparat yang sedang berupaya membubarkan massa.
Belum lama berselang, sejumlah aparat yang diduga intel mendekatinya dari belakang. Tak pakai lama, pria tersebut langsung diciduk.
Nah, BaRaNers, kalau dari pantauan yang ada, momen ini memang berlangsung cepat. Dari sempat menantang aparat, beberapa saat kemudian sudah diamankan.
Yang bikin MinRa penasaran: sebenarnya apa yang terjadi sebelum pria itu diciduk? Apakah sekadar karena aksinya saat pembubaran, atau ada hal lain yang menjadi pertimbangan aparat?
Karena yang terlihat cuma potongan momennya. Sisanya? Ya, publik masih bisa bertanya-tanya.
Sumber :TikTok@radar_bekasi
Menurut BaRaNers, apakah informasi dalam berita ini Hoax atau Fakta?
Waduh, suasana demo di sekitar Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026), makin panas. Aparat kepolisian turun tangan dan menembakkan gas ai...
Waduh, suasana demo di sekitar Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026), makin panas. Aparat kepolisian turun tangan dan menembakkan gas air mata saat bentrokan terjadi di kawasan Pos Polisi Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Situasi ini bikin sejumlah peserta aksi harus mendapat pertolongan medis. Beberapa di antaranya mengalami luka dan gangguan pernapasan, lalu dibawa ke ambulans yang bersiaga di sekitar Lampu Merah Slipi, Jakarta Barat.
Salah satunya Rizky, seorang pelajar yang ikut aksi bersama teman-temannya. Ia mengalami sesak napas akibat paparan gas air mata dan asap dari pembakaran Pos Polisi Pejompongan, sampai harus mendapat bantuan oksigen karena nyaris pingsan.
Yang bikin MinRa ikut waswas, sekitar pukul 18.00 WIB ratusan pelajar berseragam putih abu-abu mulai meninggalkan kawasan DPR menuju Petamburan sambil menyanyikan “Indonesia Pusaka”.
Di tengah situasi yang memanas, empat ambulans juga terlihat bersiaga di depan Graha Slipi untuk menangani peserta aksi yang membutuhkan pertolongan.
BaRaNers, semoga semuanya yang berada di lokasi tetap aman dan bisa kembali pulang dengan selamat. Demo boleh panas, tapi keselamatan jangan sampai jadi korban.
Sumber :TikTok@milmahbebas
Menurut BaRaNers, apakah informasi dalam berita ini Hoax atau Fakta?
Demo selesai, tapi sampahnya nggak ditinggal. Nah, begini dong. Massa aksi yang berasal dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah, membubarkan diri s...
Demo selesai, tapi sampahnya nggak ditinggal. Nah, begini dong.
Massa aksi yang berasal dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah, membubarkan diri setelah menyampaikan aspirasi di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Pembubaran berlangsung tertib di bawah pengawasan aparat keamanan. Sebelum meninggalkan lokasi, para peserta aksi terlihat mengumpulkan sampah yang masih tersisa di sekitar titik unjuk rasa.
Jadi bukan cuma datang, teriak tuntutan, lalu cabut begitu saja. Area yang dipakai untuk aksi juga dibereskan.
Setelah seluruh rombongan meninggalkan kawasan DPR RI, situasi di sekitar lokasi berangsur kondusif dan arus lalu lintas kembali berjalan normal.
Rangkaian aksi pun berakhir tanpa mengganggu ketertiban umum.
BaRaNers, kalau aspirasi sudah disampaikan, lokasi dibereskan, lalu pulang dengan tertib, sebenarnya sesederhana itu, kan?
MinRa kasih catatan kecil: boleh keras menyuarakan tuntutan, tapi urusan sampah jangan ikut keras kepala.
Sumber :TikTok@pantaumedia
Menurut BaRaNers, apakah informasi dalam berita ini Hoax atau Fakta?
Jangan gara-gara beda pandangan, yang awalnya bareng-bareng malah jadi ribut. Nah, ini yang perlu diluruskan. Melalui video yang beredar, Pa...
Jangan gara-gara beda pandangan, yang awalnya bareng-bareng malah jadi ribut. Nah, ini yang perlu diluruskan.
Melalui video yang beredar, Paijan Jawi alias Sutikno, yang disebut sebagai anggota aktif AMPB, menyampaikan bahwa pihaknya sebenarnya sudah berulang kali mengucapkan terima kasih kepada para pengemudi ojol yang membantu rombongan selama berada di Jakarta.
Ia juga meminta agar persoalan mengenai kekecewaan sebagian ojol tidak melebar menjadi konflik antara massa Pati dan komunitas ojol.
Sementara itu, Koordinator AMPB, Supriyono alias Botok, melalui unggahan di Facebook juga menyampaikan terima kasih kepada para pengemudi ojol dan masyarakat Jabodetabek yang telah mendukung aksi mereka di depan Gedung DPR RI.
Botok turut meminta maaf karena massa AMPB akhirnya harus ditarik mundur dari depan Gedung DPR RI.
Alasannya? Situasi di sekitar lokasi sudah dinilai tidak kondusif.
Jadi, kalau sebelumnya muncul narasi seolah-olah massa Pati pulang begitu saja dan melupakan dukungan para ojol, AMPB sendiri menyampaikan hal yang berbeda: mereka justru mengakui dan berterima kasih atas bantuan serta pengawalan yang diberikan selama berada di Jakarta.
BaRaNers, beda pendapat soal hasil perundingan itu wajar. Ada yang merasa kurang puas, ada yang memilih menerima hasil yang ada sambil menunggu janji berikutnya.
Tapi jangan sampai gara-gara itu, hubungan yang sebelumnya solid antara massa Pati, ojol, dan masyarakat malah pecah.
Kalau MinRa sih sederhana saja: tuntutan boleh keras, kritik boleh pedas, tapi jangan sampai kawan sendiri malah dianggap lawan.
Sumber :TikTok@akuratco
Menurut BaRaNers, apakah informasi dalam berita ini Hoax atau Fakta?